Bayi Bolehkah Menonton TV?

Coba perhatikan, berapa jam dalam sehari bayi kecil Anda terpapar siaran televisi? Satu jam? Dua jam? Atau lebih? Atau jangan-jangan TV telah menjadi ’menu wajib’ pengasuhan sehari-hari? Misalnya, memberi makan harus sambil menonton TV, kalau tidak, anak bakal mogok makan. Atau kalau menangis, dia akan terhibur dan diam setelah menonton TV.
Jika ya, Anda perlu berhati-hati. TV bisa membawa dampak negatif bagi si kecil. Di Indonesia hal ini memang tidak terlalu dipermasalahkan, karena sebagian besar masyarakat masih menganggap TV sebagai “virtual baby sitter”. Tetapi di negara-negara maju, sejumlah ahli justru menganjurkan agar bayi yang berusia kurang dari 2 tahun, tidak menonton TV sama sekali. Mengapa? Indri Savitri, Psi, Kepala Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat Lembaga Psikologi Terapan UI, menjelaskan alasan-alasannya untuk Anda.

Fokusnya pada atensi. Menurut Indri, anak-anak di bawah 2 tahun yang terbiasa menonton, disinyalir atensinya tidak berkembang optimal. Kilatan visual televisi cepat sekali berganti, sehingga otak anak terbiasa terstimulasi dengan sesuatu yang serba cepat. Hal ini kelak akan berdampak pada kemampuan anak untuk konsentrasi dan mempertahankan perhatian ketika mengerjakan sesuatu. “Akibatnya, kalau dia mengerjakan tugas, tidak bisa sampai tuntas,” kata Indri menjelaskan.

TV Membatasi Eksplorasi. Dua tahun pertama adalah masa penting bagi anak untuk mengembangkan pemahaman terhadap dunia dengan melihat, menyentuh dan mengeksplorasi secara langsung. “Kalau TV menggantikan kegiatan eksplorasi, kesempatan dia untuk bisa menjelajah dunia berkurang, dan akhirnya berdampak pada kognitif. Eksplorasinya berhenti sampai visual,” papar Indri. Kalaupun anak dipertontonkan sesuatu yang selalu bergerak-gerak, anak belum tentu bisa membayangkan benda tersebut secara tiga dimensi. Apakah berbentuk kotak, bola, atau lainnya. Lain halnya jika benda tersebut dipegang langsung untuk dieksplorasi. Anak jadi tahu, kalau bola bisa menggelinding, bisa memantul, dan teksturnya ternyata kasar. “Itu yang disebut dengan eksplorasi,” kata Indri menegaskan.

Walau demikian, Indri mengatakan menonton TV bagi bayi bisa juga diarahkan menjadi sesuatu yang positif. Asal, orangtua tahu cara menyiasatinya.

Tips:
  •  Maksimal setengah jam. Anak di bawah dua tahun hanya boleh menonton sekitar setengah jam dalam sehari. Itu pun harus dibagi sepuluh menit untuk setiap sesinya. Setelah itu anak harus tetap main dengan orangtuanya, ada intimasi dan interaksi resiprokal. Tetap optimalkan aspek bermain, membaca dan bercerita dengan anak.
  • Pilihlah program yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, disajikan dengan suara tunggal (satu orang pembawa acara) dan musik dengan tempo yang lambat.
  • Jangan jadikan TV sebagai background. Artinya ketika anak tidak menonton, matikanlah TV. Yang sering terjadi, anak makan, kemudian diberi background tontonan TV. Jika dibiasakan, anak akan kesulitan membedakan hal yang pokok dan hal yang kurang penting. Akibatnya, anak harus dikondisikan selalu ada suara-suara yang justru dapat mengganggu konsentrasi dan relasi dalam keluarga.

Sumber : Mother And Baby Mon
Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

Waduh, ternyata dampak TV terhadap anak usia kurang dari 2 tahun amat berbahaya sekali. Saya malah baru tahu. Terima kasih, mbak.... atas share artikelnya. Salam.....

Balas
avatar

@Rina Setyasih,salam kenal juga suksesbuat mbak

Balas

Selain menjual sepatu dengan model yang telah tersedia kamipun menerima pembuatan sepatu wanita dengan model dari anda sendiri.Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi Anni (PIN BB 7E78785D,HP 081572985289,Yahoo Messenger annieffendi@yahoo.com) dari jam 10.00 s/d jam 18.00,Lie Mey Yung (PIN BB 7EAB45A8,HP 02295555022,Yahoo Messenger mey_yung73@yahoo.com) dari jam 18.00 s/d jam 20.00

Oh...yah aku juga lagi cari reseller loh.....syarat ringan tidak ribet ko!!!
dan untuk lihat model sepatu bisa masuk ke
http://orderlovelyshoes.blogspot.com/
aku tunggu yah dan salam sukses!!!